Jumat, 20 Maret 2020

audit fraud

MAKALAH
PENGAUDITAN 1

AUDIT FRAUD



OLEH:

ISHAK NDUN 
1710020112





JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
2019


KATA PENGANTAR
Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas tuntunanNya Makalah ”AUDIT FRAUD” dapat diselesaikan dengan baik. Makalah ini dibuat sebagai panduan belajar bagi mahasiswa Undana agar mengetahui apa itu kecurangan yang terjadi dalam mengaudit laporan keuangan dan tipe-tipe serta faktor-faktor yang terjadi dalam mengaudit laporan keuangan.
Namun bila ada kekurangan dari isi makalah ini diharapkan kritik serta saran yang membangun guna menyempurnakan isi materi penulisan makalah ini. Kiranya makalah ini bermanfaat dalam membantu proses belajar mengajar Matakuliah Etika Dan Hukum Bisnis pada program studi Akuntansi. Akhir kata diucapkan terima kasih


Kupang,  November 2019

Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Auditing Kecurangan / Audit Fraud
2.2 Tipe-Tipe Kecurangan Audit
2.3 Kondisi-Kondi Penyebab Kecurangan
2.4 Faktor-Faktor Yang Mengurangi Adanya Kecurangan
2.5 Penilaian Resiko Kecurangan
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTTAR PUSTAKA




BAB I 
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kasus kecurangan menjadi perhatian auditor karena dewasa ini menjadi perhatian semua orang akibat terjadinya kasus Enron dan WorldCom di Amerika Serikat yang memaksa dibubarkannya salah satu kantor akuntan besar di sana, di samping menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi para investor kedua perusahaan tersebut dan masih banyak perusahaan yang terdapat di luar negeri maupun dalam negeri yang membuat kantor akuntan publik mengalami kerugian akibat auditor melakukan fraud atau kecurangan.
Oleh karena itu, sangat penting mengetahui kecurangan audit, maka disini kami akan membahas mengenai tanggung jawab auditor dalam melakukan penilaian risiko kecurangan dan mendeteksi salah saji material yang disebabkan oleh kecurangan, dan bagian-bagian utama risiko audit, serta pengendalian-pengendalian yang dilakukan untuk mencegah kecurangan dan prosedur audit untuk mendeteksi kecurangan.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari auditing kecurangan?
2. Apa saja tipe-tipe kecurangan dalam auditing?
3. Bagaimana kondisi-kondisi yang terjadi dalam auditing?
4. Apa saja faktor-faktor yang mengurangi adanya kecurangan?
5. Bagaimana penilaian resiko kecurangan auditing?

1.3 Tujuan
1. Menguraikan definisi dari kecurangan audit.
2. Memahami dan menguraikan tipe-tipe kecurangan audit.
3. Mengidentifikasi kondisi-kondisi yang terjadi dalam melaksanakan audit.
4. Memahami faktor-faktor apa saja yang mengurangi adanya kecurangan.
5. Mengidentifikasi dan mengikhtisar penilaian resiko kecurangan audit yang terjadi.


BAB II 
PEMBAHASAN

2.1 Auditing Kecurangan / Audit Fraud
Kecurangan audit adalah upaya untuk mendeteksi dan mencegah kecurangan dalam transaksi-transaksi komersial. Sebagaimana diakui juga oleh IAI, kesengajaan sering sulit ditentukan, padahal faktor kesengajaan merupakan kata kunci yang digunakan oleh IAI untuk menentukan apakah suatu kesalahan dianggap sebagai kekeliruan (error) atau kecurangan. Meskipun demikian kekeliruan harus dibedakan dengan kecurangan. 
Kekeliruan (error) merupakan suatu tindakan yang tidak disengaja yang dapat terjadi dalam setiap tahap pengelolaan transaksi.
Kecurangan (fraud) merupakan tindakan atau kesalahan yang disengaja dalam tahap pengelolaan transaksi.
Terdapat dua bentuk kekeliruan yang terjadi dalam menjalankan auditing yaitu:Internal Error merupakan kesalahan yang disengaja, tujuannya untuk keuntungan diri sendiri. bentuk internal error ini dibagi menjadi atas Window Dressing yaitu merekayasa laporan keuangan supaya terlihat baik. Dan Check Kitting yaitu saldo rekening bank ditampilkan lebih besar sehingga current ratio terlihat lebih baik. Bentuk kekeliruan yang kedua adalah Uintentional Error merupakan kesalahan yang tidak disengaja atau kesalahan manusiawi. Bentuk Uintentional Error ini adalah pada saat melakukan pencatatan laporan keuangan terjadi salah menjumlah.
Ada dua dalam bentuk kecurangan. Yang pertama Collision merupakan kecurangan yang dilakukan oleh lebih dari 1 orang (kerjasama), sulit dideteksi (walaupun pengendalian internal cukup baik), tujuannya menguntungkan pihak-pihak yang melakukan kecurangan. Bentuk kecurangan ini adalah kolusi antara bagian pembelian, gudang, keuangan dan supplier.Pencegahan kecurangan ini adalah tidak ada hubungan kekeluargaan dalam perusahaan. Bentuk kecurangan yang kedua adalah Fraud yang terdiri atas Intentional misrepresentation, Negligent misrepresentation, False promises, Employee fraud, Management fraud, Organized crime, Computer crime, dan White coller crime.


2.2 Tipe-Tipe Kecurangan Audit
1. Kecurangan dalam pelaporan keuangan
Kecurangan dalam pelaporan keuangan merupakan salah saji atau penghapusan terhadap jumlah ataupun pengungkapan yang sering disengaja dengan tujuan untuk mengelabui dan menipu  para pengguna laporan keuangan. Praktek yang dilakukan bisa dengan melebih sajikan atau merendah sajikan. Dua jenis praktekmerendahsajikan dapat dilakukan dengan:Pengaturan laba (earnings management ) yang menyangkut tindakan manajemen yang disengaja untuk memenuhi tujuan laba, dan Perataan laba (income smoothing) yang merupakan bentuk pengaturan laba di mana pendapatan dan bebanditukar-tukar di antara periode untuk mengurangi fluktuasi laba, Misalnya dengan mengurangi persediaan atau aktiva lain.
2. Penyalahgunaan Aktiva

Penyalahgunaan aktiva merupakan kecurangan yang melibatkan kecurian atau aset milik entitas. Penyalahgunaan aktiva melibatkan pencurian aktiva entitas. Nilai aktiva yang dicuri biasanya tidakmaterial tapi terakumulasi selama beberapa waktu. Pencurian aktiva dapat dilakukan oleh pegawai rendah dan tidak menutup kemungkinan dilakukan oleh manajemen itu sendiri.
Istilah penyalahgunaan aktiva biasanya digunakan untuk mengacu pada pencurian yang melibatkan pegawai dan orang lain didalam lain organisasi. Menurut perkiraan Association of Certified fraud examiners rata-rata perusahaan merugi 6 persen dari pendapatannya disebabkan oleh kecurangan, meskipun sebagian besar dari pencurian tersebut melibakan pihak-pihan eksternal, seperti pengutilan yang dilakukan oleh pelanggan dan penipuaan yang dilakukan oleh pemasok.
 Biasanya pelaku penyalahgunaan aset berada ditingkat hierarki organisasi yang lebih rendah. Namun demikian dalam beberapa kasus penting, manajemen puncak terkadang terlibat dalam pencurian aset perusahaan, karena otoritas manajemen yang lebih besar serta kendali tehadap aset-aset perusahaan, penggalapan yang melibatkan manajemen puncak dapat melibatkan jumlah yang signifikan.


2.3 Kondisi-Kondi Penyebab Kecurangan
Terdapat tiga kondisi yang menyebabkan terjadinya kecurangan dalam laporan keuangan dan penyalahguanaan aset sebagaimana dijelaskan dalam SAS 99 (AU 316) yaitu:
1) Insentif/Tekanan.Manajemen atau pegawai lainnya memiliki insentif atau tekanan untuk melakukan kecurangan.
2) Kesempatan.Situasi yang memberikan kesempatan bagi manajemen atau pegawai untuk melakukan kecurangan.
3) Sikap/Rasionalasi.adanya suatu sikap, karakter, atau seperangkat nilai-nilai etika yang memungkan manajemen atau pegawai untuk melakukan tindakan yang tidak jujur, atau mereka berada dalam suatu lingkungan yang memberikan mereka tekanan yang cukup besar sehingga menyebabkan mereka membenarkan melakukan perilaku yang tidak jujur tersebut.

a. Faktor-Faktor Resiko Untuk Kecurangan Dalam Laporan Keuangan
Pertimbangan penting bagi auditor untuk membongkar kecurangan adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan risikokecurangan. Dalam segitiga kecurangan, pelaporan keuangan yang curang dan penyalahgunaan aktiva berbagi 3 kondisi yang sama, tetapi faktor-faktor resikonya berbeda.
Insentif/Tekanan Sebuah insentif yang umum bagi perusahaan untuk memanipulasi laporan keuangan adalah adanya penurunan dalam prospek keuangan perusahaan. Sebagai contoh, penurunan dalam laba dapat mengancam kemampuaan perusahaan dalam mendapatkan pendanaan.
Kesempatan Meskipun laporan keuangan dari semua perusahaan potensial dapat terjadi manipulasi, risiko menjadi lebih besar untuk perusahaan yang bergerak dalam industri yang melibatkan penilaian subjektif dan estimasi yang signifikan. Sebagai contoh, terdapat kemungkinan salah saji dalam persediaan dalam perusahaan-perusahaan memilki persediaan yang terletak dibeberapa tempat yang berbeda. Penggantian pegawai dibagian akuntansi atau kelemahan lainnya dalam proses akuntansi dan informasi dapat menyebabkan munculnya kesempatan terjadinya salah saji. Banyak kasus dalam laporan keuangan yang disebabkan oleh komite audit dan dewan direksi yang tidak efektif dalam melakukan pengawasan terhadap pelaporan keuangan.
Sikap/Rasionalisasi sikap manajemen puncak terhadap laporan keuangan merupakan faktor risiko penting dalam menilai kemungkinan adanya kecurangan dalam laporan keuangan.Jiko CEO atau manajer puncak menunjukkan dominasi terhadap proses penyusunan laporan keuangan, seperti terus menerus mengeluarkan proyeksi yang terlalu optimi, atau mereka terlalu khawatir untuk memenuhi proksi laba para analisis pasar, kemungkinan terjadi kecurangan  dalam laporan keuangan menjadilebuh besar.

b. Faktor-Faktor Resiko Untuk Penyalahgunaan Aset
Tiga kondisi yang sama juga berlaku untuk penyalahgunaan aset. Namun demikian, dalam melakukan penilaian risiko, penekanan yang lebih besar diberikan insentif dan kesempatan pribadi untuk melakukan penilaian risiko, pendekatan yang lebih besar diberikan insentif dan kesempatan pribadi untuk melakukan pencurian.
Insentif/tekanan,Tekanan keuangan merupakan insentif umum bagi pegawai yang menyalahgunakan aset. Pegawai yang memiliki utang yang sangat besar, dapat mencuri untuk memenuhi  kebutuhan pribadi mereka.
Kesempatan,Kesempatan untuk melakukan pencurian ada pada semua perusahaan.Namun,Kesempatan tersebut lebih besar pada perusahaan yang akses  terhadap kasnya sangat mudah, atau pada perusahaan yang memilki persediaan atau aset berharga lainnya.Khususnya jika ukuran aset tersebut kecil dan mudah dipindah-pindah. 
Pengendalian internal yang lemah menciptakan kesempatan terjadinya pencurian, pemisahan tugas yang tidak yang memadai hampir dipastikan menjadi liseni bagi para pegawai untuk melakukan pencuriaan.Jika para karyawan menangani atau bahkan memiliki akses sementara terhadap aset dan juga melakukan pembukuan untuk aset tersebut, maka muncul potensi terjadinya pencurian.
Kecurangan menjadi lebih besar di perusahaan yang lebih kecil dan organisasi nirlaba karena lebih sulit bagi entitas tersebut untuk melakukan pemisahan tugas.Namun demikian, bahkan perusahaan yang lebih besar pun dapat tidak melakukan pemisahan tugas yang memadai dibagian-bagian penting.
Sikap/Rasionalisasi Sikap manajemen terhadap pengendalian dan kode etik dapat menyebabkan para kayawan dan manajer membenarkan pencurian terhadap aset.Jika manjemen mencurangi para pelanggannya dan menetapkan harga yang sangat tinggi untuk barang-barang atau terlibat dalam taktik penjualan bertekanan tinggi, para pegawai dapat merasa bahwa mereka juga dibenarkan untuk memmbuat serupa dengan memalsukan pengeluaran atau memalsukan laporan keuangan waktu kinerja. 
2.4 Faktor-Faktor Yang Mengurangi Adanya Kecurangan
Untuk membantu manajemen dan dewan direksi dalam upaya memerangi kecurangan, AICPA bersama dengan beberapa organisasi profesional, menerbitkan Management Anti Fraud Programs and Controls: Guid to Help Prevent, Deter, and Detect Fraud (Program dan Pengendalian Anti Kecurangan; Pedoman untuk Membantu, Mencegah, Menghalangi dan Mendeteksi Kecurangan) pedoman ini mengidentifikasi tiga unsur untuk mencegah, menghalangi, dan mendeteksi kecurangan:
1. Budaya jujur dan etika yang tinggi
2. Tanggung jawab manajemen untuk mengevaluasi risiko kecurangan.
3. Pengawasan oleh komite audit.
2.5 Penilaian Resiko Kecurangan
SAS 99 memberikan pedoman kepada auditor dalam mengukur risiko kecurangan. Auditor harus menjaga suatu tingkat skeptisme professional ketika mereka mempertimbangkan informasi yang luas termasuk faktor-faktor risiko kecurangan, untuk mengedintifikasi dan menghadapi risiko kecurangan.
1. Skeptisisme Profesional
SAS 1: dalam melaksanakan skeptisisme profesional, auditor “tidak mengasumsikan bahwa manajemen tidak jujur tetapi juga tidak mengasumsikan kejujuran absolut”Untuk mempertahankan skeptisime profesional tersebut, ada dua hal yang harus diingat:
a. Pikiran yang selalu mempertanyakan.
Auditor harus selalu mempertimbangkan kerentanan klien terhadap kecurangan, tanpa memperhitungkan kemungkinan kejujuran atau integritasmanajemen.
b. Evaluasi kritis atas bukti audit.
Setiap indikasi atau temuan harus dievaluasi dan dipelajari secara mendalam.
2. SumberInformasi untuk Menilai Resiko Kecurangan
Sumber informasi yangdigunakan untuk menilai resiko kecurangan ada lima sumber, yaitu:
1) Komunikasi di antara tim audit.
Diskusi dilakukan menyangkut hal-hal sebagai berikut:
a. Bagaimana dan di mana kemungkinan letak salah saji yang material akibat kecurangan.
Pertimbangan yangdiperlukan adalah ketiga faktor yang telah dibahas sebelumnya, yakni: insentif/tekanan, kesempatan, dan sikap/rasionalisasi.
b. Bagaimana manajemen dapat melakukan dan menutupi pelaporan keuangan yang curang.
c. Bagaimana seseorang dapat menyalahgunakan aktiva.
d. Bagaimana auditor menanggapi kerentanan salah saji yang material akibat kecurangan tersebut.
2) Pengajuan pertanyaan kepada manajemen.
Pertanyaan yang diajukan harus spesifik termasuk kemungkinan manajemen mencurigai adanya kecurangan. Pertanyaan juga diajuk an kepada pihak lain termasuk komite audit.
3) Faktor-faktor resiko.
Ketiga faktor resiko (insentif/tekanan, kesempatan, dan sikap/rasionalisasi) perlu dipertimbangkan dengan semua informasi yang ada.Yang perlu diingat, kecurangan muncul tidak melulu karena adanya ketiga faktor tersebut secara signifikan.
4) Prosedur analitis.
Prosedur analitis dirancang sejak perencanaan audit. Bila hasilnya berbeda dengan ekspektasi, harus dievaluasi dengan memperhitungkan dengan informasi yang lain.
5) Informasi lain.
Informasi ini dapat diperoleh di setiap tahap atau bagian audit ketika menilai resiko kecurangan, dan kebanyakan dapat mengindikasikan resiko kecurangan yang lebih tinggi.
3. Mendokumentasikan Penilaian Kecurangan
SAS 99 mengharuskan auditor
mendokumentasikan hal-hal yang bersangkutan dengan pertimbangan auditor mengenai salah saji yang material akibat kecurangan, yaitu:
1. Diskusi antara personil tim penugasan selama tahap perencanaan audit tentang kerentanan laporan keuangan entitas terhadap kecurangan yang material.
2. Prosedur yang ditempuh untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk mengidentifikasi dan menilai resiko kecurangan yang material.
3. Resiko khusus tentang kecurangan yang material yang sudah teridentifikasi.
4. Alasan yang mendukung kesimpulan bahwa tidak ada resiko yang signifikan atas pengakuan pendapatan yang tidak tepat secara material.
5. Hasil dari prosedur yang ditempuh untuk menghadapi resiko pengabaian pengendalian oleh manajemen.
6. Kondisi dan hubungan analitis yang menunjukan bahwa diperlukan prosedur auditing tambahan atau respon lainnya.
7. Sifat komunikasi tentang kecurangan yang disampaikan kepada manajemen, komite audit, dan pihak lainnya.


BAB III
 PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Jadi setiap kecurangan yang dilakukan di dalam perusahaan dan yang merugikan perusahaan, baik itu bentuk kecurangan yang dilakukan oleh orang pribadi maupun oleh orang banyak, baik itu dilakukan untuk kepentingan yang baik ataupun yang buruk yang namanya kecurangan (fraud) adalah perbuatan yang salah.
Oleh sebab itusudah seharusanya perusahaan memperkuat sitem pengendalian intern di dalam perusahaan agar perusahaan tersebut terhindar dari segala bentuk macam kecurangan (fraud), salah satu cara pengendalianya adalah dengan mengelola tata kerja karyawan dan meroling pekerjaan karyawan agar perusahaan tersebut terhindar dari segalah macam kecurangan.
Maka dengan adanya sistem pengendalian intern yang kuat di dalam perusahan tersebut itu akan meminimalka segalah bentuk kecurangan (fraud) yang dilakukan oleh orang-orang yang menginginkan kas dengan cara cepat, oleh karena itu jika sistem pengendalian intern di perusahaan tersebut kuat maka akan sangat kecil kesempatan untuk melakukan kecurangan di perusahaan tersebut.

3.2 Saran
Semoga dengan adanya makalah ini, dapat memotivasi kita semua sebagai mahasiswa untuk terus mencari tahu hal-hal yang berkaitan dengan kecurangan bagi seorang auditor agar bisa mengetahui jalan keluar apa yang harus diambil oleh seorang auditor untuk menghindari hal-hal yang menyangkut dengan 







DAFTAR PUSTAKA














Tidak ada komentar:

Posting Komentar

2 TAWARIK 17:1-9 PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA MELALUI PENDIDIKAN

Thema: Peningkatan Kualitas SDM melalui Pendidikan Klw ada pertanyaan bagaimana meningkatkan kualitas SDM? Ya jawabannya pasti pendidikan. N...